Apa yang Dilakukan Anak-anak Buruh Migran di Serawak Malaysia saat HUT RI?

Pikiran saya menyisir jauh memutar roda waktu satu tahun yang lalu, tapat di hari ini. Di tanah damai penuh keceriaan gelak tawa anak-anak buruh migran berdarah asli Indonesia yang ikut menyemarakkan ulang tahun negaranya. Pohon-pohon kelapa sawit pun turut merasakan kekhidmatan itu.

“Hari merdeka, nusa dan bangsa. Hari lahirnya bangsa Indonesia. Merdeka!” nyanyi mereka dengan sorak sorai saat menuju ke sekolah sambil membawa bendera merah putih kebanggaannya.

Baca juga: HUT RI Bersama Anak-anak Buruh Migran

Pagi itu, saya dan beberapa relawan pengajar sudah bersiap dengan pakaian batik terbaik kami khusus untuk digunakan saat Upacara RI bersama buruh migran Indonesia dan anak-anaknya. Pagi itu cukup cerah dengan senyum antusias seluruh warga Galasah. Mulai dari bapak-bapak dan ibu-ibu yang sibuk menunggu kesiapan acara sakral itu sampai anak-anak yang cukup sulit sekali diatur untuk berbaris yang rapi.

Tempatnya memang bukan di lapangan terbuka nan luas. Tempatnya hanya di sebuah ruangan persegi yang biasa digunakan anak-anak untuk menimba ilmu. Ya, kami upacara di dalam ruang kelas. Beruntung, saya berada di dalamnya bersama anak-anak. Sedangkan, bapak-bapak dan ibu-ibu warga Galasah antusias berebutan mengintip dari balik jendela untuk menyaksikan anak-anaknya melakukan upacara RI 70. Sungguh, saat itu terbayar sudah peluh kami melatih anak-anak sebagai petugas upacara dan melatih menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia.

Satu hari sebelumnya, kami disibukkan dengan menghias ruang kelas. Tentu warna merah putihlah kebanggan kami. Ruang kelas pun disulap dengan sangat meriah. Meja dan kursi digeser ke pojok kelas, agar ada ruang yang cukup untuk anak-anak dari TK sampai Kelas 6 SD berbaris di dalamnya.

17 Agustus pun tiba. Khairil, kelas 4 SD, yang memimpin kami semua untuk melaksanakan upacara RI 70 nan khidmat pada pagi itu. Benar-benar kenikmatan yang sungguh luar biasa bagi saya saat semua orang bernyanyi “Indonesia Raya”. Hal itu semakin membuat saya semakin jatuh cinta dengan Indonesia.

Anak-anak buruh migran memang tidak terlalu mengenal Indonesianya, ya kerena mereka lahir dan tumbuh di negeri jiran, Serawak. Mereka hanya sebatas lancar menyanyikan lagu Indonesia Raya, cukup tahu beberapa lagu kebangsaan seperti lagu “Hari Merdeka (17 Agustus)”, dan mengetahui bentuk negara Indonesia dari Peta yang dipajang di dinding kelas. Tapi percayalah, di dada mereka ada rasa cinta dan keingintahuan yang sangat besar terhadap Indonesianya.

“Cikgu, mengapa lambang Indonesia Burung Garuda?”

“Cikgu, seberapa tinggi monas itu?”

“Siapa presiden kita yang sekarang, Cikgu?”

“Bagaimana bentuk uang Rupiah? Aku ingin memilikinya, Cikgu!”



Masihkah kamu kurang bersyukur bisa merasakan kenikmatan upacara di lapangan nan luas tanpa harus bersempit-sempitan melakukan upacara di ruang kelas? Masikah kamu tidak merasakan kekhidmatan menyanyikan lagu Indonesia Raya? Apakah air matamu berlinang saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan olehmu dan orang-orang sekelilingmu?

Mari bersykur atas semua karunia kemerdekaan ini, wahai kawanku!

Air mata saya dan air mata orang-orang di sekeliling saya tidak terbendung. Hati ini bergetar hebat. Mereka sungguh terlarut dengan kenikmatan menyanyikan lagu Indonesia Raya seraya memberi hormat kepada bendera merah putih di depan kami. Ah, tak usah bertanya bagaimana caranya bendera bisa kami kibarkan di dalam ruang kelas. 

“Di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku. Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku. Marilah kita berseru Indonesia bersatu.” Nyanyian dengan nada sesenggukan oleh peserta upacara RI 70. Seraya dengan lantunannya, banyak buruh migran Indonesia yang merasa rindu untuk tinggal kembali di kampung halaman mereka masing-masing.

Seandainya waktu bisa diputar kembali, hari ini saya ingin sekali merasakan kenikmatan upacara di sana, bersama adik-adik saya. Karena telah membuat perasaan ini membuncah betapa bersyukurnya saya bisa memaknai dengan hati yang bergetar saat upacara HUT RI berlangsung.


Keesokan harinya, anak-anak buruh migran kami beri kesempatan untuk merayakan tradisi yang biasa dilakukan di Indonesia. Yaitu, lomba 17 Agustusan. Mulai dari berlari ambil bendera sampai balap karung. Ah, yang penting semua bersuka cita atas perayaan ulang tahun Indonesianya. Dan tak hanya bersuka cita, mereka pun turut mendoakan Indonesia agar menjadi lebih baik lagi, walau menginjak tanahnya saja belum pernah. Semangat kemerdekaan itu masih ada!

Terima kasih untuk kesempatan berharganya! Kesempatan untuk bisa menyaksikan langsung betapa tulusnya hatimu kepada Indonesia. Kembalilah, dan tumbuh bersama Indonesia, ya Nak!


Amanah Kelas Sumayyah


Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan keluarga muslim tersebut yang tengah disiksa dengan kejam, maka beliau menengadahkan ke langit dan berseru,

“Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.”

Sumayyah binti Khayyat mendengar seruan Rasululla, maka beliau bertambah tegar dan optimis. Dengan kewibawaan imannya, dia mengulang-ulang dengan berani, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.”

Begitulah, Sumayyah binti Khayyat telah merasakan kelezatan dan manisnya iman sehingga bagi beliau kematian adalah sesuatu yang remeh dalam rangka memperjuangkan akidahnya. Hatinya telah dipenuhi kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala, maka dia menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan oleh para tagut yang zalim; mereka tidak kuasa menggeser keimanan dan keyakinannya, sekalipun hanya satu langkah semut.

Sementara Yasir telah mengambil keputusan sebagaimana yang dia lihat dan dia dengar dari istrinya, Sumayyah binti Khayyat pun telah mematrikan dalam dirinya untuk bersama-sama dengan suaminya meraih kesuksesan yang telah dijanjikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tatkala para tagut telah berputus asa mendengar ucapan yang senantiasa diulang-ulang oleh Sumayyah binti Khayyat maka musuh Allah Abu Jahal melampiaskan keberangannya kepada Sumayyah dengan menusukkan sangkur yang berada dalam genggamannya kepada Sumayyah binti Khayyat. Terbanglah nyawa beliau dari raganya yang beriman dan suci bersih. 


Sumber: KisahMuslim.com

***

Saat Rapat Kerja Guru (sebelum kegiatan belajar dimulai), aku telah diamanahkan untuk menjadi wali kelas IX Putri, yang hanya terdiri depalan santri. Mereka adalah, Pipet, Tepu, Ririn, Reyna, Sulis, Arwa, Aminah, dan Tri. Empat santri dari Ambon, sisanya dari Serang dan Lampung.

Menjadi wali kelas, menurutku ini amanah yang tidaklah mudah. Mulai dari mengontrol kebersihan kelas IX setiap hari sebelum belajar dimulai sampai mengisi rapor mereka di setiap akhir semester. Oia, mereka memanggilku Ibu Gia. Semoga saja dengan diberikannya amanah ini kepadaku, aku bisa sekaligus belajar menjadi ibu bagi delapan santri-santriku.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS: Al-Anfaal ayat 27)


Jadi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai (pada hari Sabtu), hari Jumat ini agendanya bersih-bersih kelas. Yey!

Awalnya, kelas XI gak kebagian ruang kelas. Ruang kelas XI tempatnya di lantai 3 Masjid Aisyah, alias ruang rapat para guru. Alhasil yang seharusnya kita bersih-bersih kelas, tapi kita malah photo session deh.

Di hari Sabtu, Kelas XI diharuskan Tes Online Matrikulasi. Dan di hari itu juga, kita mendapatkan kabar yang menggembirakan, yaitu kelas XI mendapatkan kelas baru. Ya, kelas beneran, lengkap dengan kursi, meja, dan papan tulis. Alhamdulilah.

Nah, di hari Minggu-nya, ada agenda menghias kelas. Sebelum menghias kelas, ada beberapa hal yang harus disepakati bersama, diantaranya pemilihan nama kelas, penentuan struktur kelas, pembagian jadwal piket, dan penetapan peraturan kelas. Oia, gak lupa, agenda pada hari itu dimulai dengan bermain "Panen Permen" dan "Baris Klasifiskasi". Permainan itu untuk lebih mengenal di antara kita semua.

"Kelas XI Putri ingin dinamai apa ya? Clue-nya adalah sahabat Nabi yang perempuan."

Dengan sigap, Tepu langsung menyebutkan nama Sumayyah.

"Kenapa Sumayyah, Tepu?" tanyaku kepadanya.

"Ia bu, Sumayyah binti Khayyat adalah wanita pertama yang akan masuk surga. Beliau adalah wanita pertama yang syahid dalam Islam. Beliau gugur setelah memberikan contoh baik dan mulia bagi kita dalam hal keberanian dan keimanan, beliau telah mengerahkan segala yang beliau miliki dan menganggap remeh kematian dalam rangka memperjuangkan imannya. Beliau telah mengorbankan nyawanya yang mahal, dalam rangka meraih keridhaan Rabbnya. Mendermakan jiwa adalah puncak tertinggi dari kedermawanan," jelas Tepu.

Aku dan santri lainnya fokus mendengarkan penjelasan Tepu tentang Sumayyah.

"Ok, semua sepakat kalau nama kelas kita adalah Sumyyah?"

"Sepakaaaaat bu!" jawab mereka serempak.

Ya, gak perlu waktu lama untuk menentukan nama kelas XI. Alhamdulilah.

Selanjutnya adalah penentuan struktur kelas. Arwa terpilih menjadi ketua kelas, dan wakilnya adalah Reyna. Pemilihan ini berdasarkan hasil voting alias kesepakatan bersama. Dan sekali lagi, gak perlu waktu lama untuk menentukan struk kelas. Seneng deh!

Setelah semua agenda selesai untuk disepakati, saatnya menghias kelas.

Di hari Jumat lalu, aku sudah membelikan berbagai peralatan untuk menghias kelas, mulai dari karton sampai paku payung. Pokoknya lengkap deh.

Nah, yang mau aku bikin banget adalah "Mimpi Kita" yang nantinya dipajang di bagian belakang kelas. Tapi, sebelum membuat "Mimpi Kita" aku meminta mereka untuk foto satu persatu dengan background dinding di Masjid. Mereka bergaya seakan-akan tangan kiri sedang memegang payung dan tangan kanan sedang menarik suatu benda.

Setelah usai sesi foto satu persatu, saatnya menuju ruang kelas dan siap menghias kelas.



Aku menginstruksikan mereka untuk berbagi job. Tepu penanggung jawab Quotes, Sulis penanggung jawab Peraturan Kelas, Arwa penanggung jawab Tag line kelas "Kami Cerdan dan Siap Berprestasi", Aminah spesialis menggambar wajah, dan sisanya bagian ngelem dan menggunting. Alhamdulilah, kerja tim seperti ini bisa cepat selesai, hanya dalam waktu 4 jam saja.

Ini dia penampakkan bagian belakang kelas, Mimpi Kita.



Semoga amanah yang diberikan kepadaku ini bisa aku jalankan dengan baik. Dan semoga aku bisa mengantarkan mereka untuk meraih mimpi-mimpi mereka di tahun ini. Aamiin. Mereka santri-santriku, anak-anakku, sekaligus adik-adikku. Bismillah....



Salah Kaprah


Banyak wali santri ataupun tamu yang sedang berkunjung ke tempat sekolahku mengajar yang salah kaprah denganku. Apa yang salah ya, wajahku atau penampilanku?

Kejadian pertama, saat Bulan Maret 2016. Saat itu sedang ada tamu ibu-ibu untuk menghadiri acara Go Green Penanaman 500 pohon di Ibad ArRahaman Islamic Boarding School. Saat ibu-ibu mau pulang dan menaiki mobil masing-masing, tentu kami para ustadzah berjajar menyalami mereka satu persatu.

Dan saat seorang ibu yang terakhir menyalamiku, dia bilang gini, "Belajar yang rajin yah, nak. Ibu pulang dulu, nanti kapan-kapan main lagi ke pondok."

"Lho bu, saya bukan santri Aliyah lho. Saya ini ustadzah," ucapku dalam hati sambil tergelitik dengan ucapan ibu itu.

Kejadian kedua, yaitu saat aku sedang shalat dzuhur di Masjid Aisyah. Kebetulan saat itu adalah hari pertama santri putri libur. Jadi, gak ada santri putri saat itu yang shalat di masjid. Kebetulan hanya aku dan Ustadzah Resti yang menunaikan shalat di sana.

Ternyata ada seorang ibu yang juga akan menunaikan shalat dzuhur. Ternyata, ia berniat untuk mendaftarkan anaknya untuk sekolah di sini.

Usai shalat, aku berusaha untuk menyapanya. Senyum, terus bersalaman dengannya. Tanpa aku duga, ibu itu malah memberikan tangannya untuk aku salim. Tapi aku menahannya, hihihi. Mungkin dia kaget.

Yasudah, aku jelaskan saja, "Maaf ibu, saya bukan santri. Saya ustadzah di sini."

Dan kejadian yang masih hangat, yaitu saat penerimaan santri baru datang ke pondok, tepatnya tanggl 23 - 24 Juli 2016. Semua wali santri pasti mengantarkan anaknya di hari pertama datang ke pondok.

Saat itu, aku ditempatkan di bagian Registrasi Putri. Tugasku adalah menyambut wali santri bersama anaknya datang, serta memastikan mereka untuk menuliskan jam kedatangan dan nomor handphone yang dapat dihubungi.

Cukup banyak wali santri yang salah kaprah lagi.


Ya, banyak yang mengira kalau aku adalah kakak kelas anaknya.

"Assalammua'laikum, Kak," kata seorang ibu wali santri sambil bersalaman denganku.

"Hayo nak, salim juga sama kakak kelasmu!" perintah ibu wali santri kepada anaknya untuk menyalami tanganku.

Aku jelaskan ke ibu wali santri, "Oh maaf ibu, saya ustadzah di sini. Saya yang akan mengajar mata pelajaran fisika, bu."

"Oh ya Allah, ustadzahnya masih muda-muda ya," ungkap ibu wali santri sambil senyam-senyum.

Mind set para orang tua mungkin heran mengapa masih semuda ini sudah menjadi seorang guru.

Bapak dan ibu wali santri, untuk menjadi seorang guru bukan masalah tua atau mudanya. Ya, memang guru yang sudah berumur lebih meyakinkan karena banyaknya jam terbang mengajarnya. Tapi, guru yang masih muda, justru bisa saja lebih update, dan yang pasti kami sebagai guru yang masih muda mempunyai semangat yang tinggi untuk mendidik serta terus meng-upgrade diri, insyaAllah.

Terima kasih bapak dan ibu wali santri Ibad ArRahman Islamic Boarding School yang sudah percaya bahwa aku adalah ustadzah untuk anak-anakmu.

FYI, ya memang pada kenyataannya semua ustadzah di Ibad ArRahman umurnya di bawah 27 tahun semua.



Jujur, Seharusnya Nilaiku Tak Segini


Aku kaget sekaligus takjub, ternyata hari gini masih ada siswa yang sangat menjunjung tinggi kejujuran. Salah satunya, santriku.

“Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”. (HR. Ibnu Hibban)

UAS semester kemarin, aku mendapatkan pengakuan kejujuran dari seorang santri putri. Namanya Tri, kelas XI Aliyah Putri. Tri mengaku jujur kalau seharusnya nilai UAS mata pelajaran fisikanya tidak sebesar ini.

Ya, ini kekeliruanku menghitung jumlah point benar dan salah yang ia dapatkan. Seharusnya nilainya 72, tapi aku menghitung nilainya menjadi 74. Kelebihan dua point saja. Artinya, aku membenarkan satu soal pilihan ganda yang seharusnya tidak mendapatkan point.

Tri mendatangiku di Ruang Guru.

“Assalammu'alaykum Bu Gia,” ucap salam dari Tri.

“Wa’alaykumusalam. Ada apa Tri?” tanyaku.

“Emmm ini bu. Ibu seharusnya nilai saya tidak segini. Kayaknya ibu membenarkan satu soal pilihan ganda deh. Harusnya salah, tapi malah ibu hitung point benar,” kata Tri sambal menunjukkan hasil kertas ulangan fisikanya.

Aku memeriksa kertas ulangannya. Benar saja, aku keliru menghitung nilai ulangan fisika yang didapatkan Tri.

“Oia, salah. Maaf ya, saya keliru menghitung jumlah pointnya. Nilaimu memang seharusnya tak segini, saya melebihkan dua point,” kataku setelah memeriksa jawaban ulangan fisikanya.

“Iya, benar bu. Seharusnya nilai saya 72. Gapapa bu, saya sudah senang sekali, saya tidak remedial fisika,” kata Tri dengan senyum puas sekali.

Aku penasaran sekali. Kok ada siswa sehabat ini ya. Dia sangat menjunjung kejujuran, walaupun hanya kelebihan dua point saja. “Terima kasih sudah mau jujur, walaupun ini sebenarnya merugikanmu. Tapi kenapa Tri mau jujur?”

“Ya, karena saya tahu dua point itu bukan hak saya bu. Saya takut dosa bu. Jadi sebaiknya saya jujur saja deh.”

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan (suka) menimbulkan perselisihan diantara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. (Qs. Al-Israa’: 53)

Lagi-lagi aku belajar dari santriku. Jujur adalah yang utama! Pengakuannya mudah sekali. Ia tak perlu mempertimbangkan kerugian ataupun keuntungan apa yang akan ia dapatkan. Ia tak perlu berpikir dua kali kalau nilainya menjadi berkurang, bahkan nyaris saja ia akan remedial fisika dengan nilai ketuntasan minimal 70. Ia tak ragu untuk berkata jujur. Terima kasih Tri untuk pembelajaran darimu! Aku sangat beruntung menjadi gurumu.


Tentang Ibu Gia: Evaluasi Menjadi Ibu Guru


“Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal shalih) untuk pagelaran agung (pada hari kiamat kelak)” (HR. Tirmidzi).

Ternyata menjadi seorang guru tidaklah mudah. Aku pikir, toh hanya tinggal mengajar saja di kelas. Jika sang guru telah mampu membuat siswa-siswinya mengerti atas materi yang diajarkan, berarti guru tersebut telah berhasil mengajar. No! Tidak hanya itu ternyata!

Bagiku, guru tidak hanya mengajar tapi juga mendidik dan memberikan inspirasi. Tugasnya bukan hanya mentransferkan ilmu-ilmunya saja, tapi tugas terbesarnya adalah bagaimana caranya siswa-siswi yang dididik mampu menjadi orang hebat. Karena sejatinya, jika guru bisa mencetak orang-orang hebat, maka gurulah yang hebat. Remember, the best is not enough, we must be great!

“Wahai guru, berhentilah memberi contoh, tapi menjadi contoh.” Prof Arief Rachman.

Dan, aku sedang dalam perjalanan untuk menjadi guru yang kelak nanti akan mencetak orang-orang yang hebat dan mampu memimpin peradaban bangsa ini, InsyaAllah.

Evaluasi dari Pak Made

Mei 2014, ketika aku masih kuliah di semester 6, aku dan calon guru lainnya harus melewati mata kuliah Keterampilan Mengajar. Satu kelas dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok akan diampu oleh satu dosen. Beruntungnya, aku dan beberapa teman lainnya diampu oleh Bapak I Made Astra, yang akrab disapa Pak Made. Beliau adalah salah satu guru besar UNJ, spesialis bidang pendidikan fisika.

Mata kuliah Keterampilan Mengajar mengajarkan mahasiswa alias para calon guru untuk berani tampil, tampil untuk mengajar lho ya. Jadi satu persatu dari kami akan praktik mengajar di depan kelas dengan membawakan materi yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Saatnya giliranku! Saat itu aku mengajarkan materi Gravitasi untuk siswa kelas IX SMA. Aku mengajar dihadapan Pak Made dan juga teman-temanku lainnya yang berperan sebagai siswa.

Tentu sebelumnya, aku telah mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan saat mengajar, mulai dari RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran), LKS (Lembar Kerja Siswa), sampai belajar materi Gravitasi sampai ngelotok. Dan deg-degkannya minta ampun! Ini menyangkut nilai mata kuliah Keterampilan Mengajar yang langsung dinilai oleh Pak Made. Belum lagi soal malunya, malu kalau ada yang salah konsep saat praktik mengajar di depan Pak Made dan teman-teman.

Serunya, inilah saat pertama kali aku mendapatkan evaluasi tentang cara mengajarku. Aku ingat sekali, Pak Made hanya memberikan komentar seperti ini, “Kamu kalau mengajar hilangkan Bahasa gaulnya ya!”

Oia, sempat ada beberapa kata yang aku keluarkan saat mengajar pada waktu itu, salah satunya kata “kepo”. Aku camkan baik-baik komentar dari Pak Made ini. Positifnya, Pak Made bilang bahwa tulisanku bagus di papan tulis. Dan, alhamdulilah di akhir semester, aku mendapatkan nilai A untuk mata kuliah Keterampilan Mengajar.

Evaluasi dari Siswa-siswi SMAN 68 Jakarta

Semester berikutnya, aku mengajar dihadapan siswa-siswi beneran. Yang aku ajar adalah anak-anak cerdas, siswa siswi kelas IX SMA 68 Jakarta. Aku mengajar di sana dalam rangka mengambil mata kuliah PKM (Praktik Keterampilan Mengajar). Kurang lebih selama tiga bulan aku mengajar di sana. Seharusnya sih lima bulan. Tapi, sayangnya dua bulan sisanya, aku banyak membolos dikarenakan sakit. Dan, nilai mata kuliah PKM-ku mendapatkan A juga, alhamdulilah.

Siswa-siswi kelas IX SMA 68 Jakarta rata-rata berkomentar, “Oooo fisika ternyata gampang ya kalau diajari oleh Miss Gia.”

Asyik! Senang banget mendapatkan komentar seperti itu. Mereka kritis-kritis dan cara berpikirnya cepat lho. Mereka suka bertanya hal-hal yang gak terduga. Intinya, fisika memang susah, tapi fisika dapat dipelajari dan dipahami bagi mereka yang mau bersungguh-sungguh belajar.

Evaluasi dari Mr. Mustafa

Aku resmi menjadi seorang ibu guru fisika sejak November 2015. Siswa yang aku ajar adalah santri putra dna putri MTs (Madrasah Tsanawiyah) dan MA (Madrasah Aliyah) Ibad ArRahaman Islamic Boarding School. Kalau masih ingat ceritaku di tulisan-tulisan sebelumnya, aku bisa manjadi guru di sana karena ditawarkan oleh dosenku, Pak Anggoro dan Pak Fauzi. Dan sejujurnya, aku melewati proses menjadi guru di sana tanpa melewati seleksi microteaching. Sedangkan guru-guru lain, harus melewati beberapa seleksi, diantaranya seleksi berkas, interview, dan microteaching. Gak sedikit guru-guru yang sudah melewati berbagai seleksi tidak diterima di Ibad ArRahaman Islamic Boarding School. Wah, ini suatu keistimewaan bagiku!

Sudah tiga minggu menikmati mengajar calon hafidz dan hafidzah, Pembina pondok mengabarkan bahwa akan hadir seorang guru besar dari Singapore. Umurnya memang masih muda, tapi pengalaman mengajarnya sudah banyak sekali. Namanya, Mr. Mustafa. Beliau datang ke pondok untuk mensupervisi kegiatan mengajar guru-guru di sini. Ya, termasuk aku!

Tibalah saat Mr. Mustafa masuk ke kelas Fisika. Seharusnya sih Bu Dwi, rekanku, yang mengajar Fisika di kelas IX B. Tapi karena dia gerogi akhirnya dilimpahkan kepadaku.

Ya, untuk pertama kalinya aku mengajar Fisika sekaligus disupervisi oleh guru besar dari Singapore. Rasanya? Gak usah ditanya deh. Deg-degkan banget!

Aku mengajar materi tentang listrik statis dan berbagai contoh fenomenanya. Mr. Mustafa sangat memperhatikan metode yang aku gunakan saat mengajar. Dan dia memberikanku masukan tentang cara tik tak ke siswa alias tanya jawab saat pelajaran berlangsung.

“Sudah sangat baik metode yang kamu gunakan. Kelas aktif, dan ilmu yang kamu transfer sepertinya diserap dengan baik oleh siswa. Tapi sebaiknya jangan mendominasi menjawab pertanyaan dari siswa. Sebelum menjawab kamu bisa pancing mereka untuk ikut berpikir apa jawabannya. Jangan langsung kamu yang menjawab ya! Pancing mereka untuk bersama-sama memecahkan masalah,” evaluasi dari Mr. Mustafa usai aku mengajar.

Yes, noted, Sir!

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)


Evaluasi dari santri-santri kelas 8 dan kelas 10

Intropeksi diri! Penting sekali bagi kita yang sedang diberi amanah. Amanah sebagai guru tidaklah mudah. Itu merupakan beban yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di dunia dan di akhirat kelak nanti. Kalau guru hanyalah sekedar pekerjaan, dan orientasi yang dikejar hanyalah gaji, maka sungguh merugi orang-orang yang diberi amanah sebagai guru. Semoga aku menjadi seorang guru yang paham tentang amanah. Amanah yang tidak hanya sekadar dijalankan saja, tapi juga selalu mau untuk intropeksi diri atas kinerja menjalankan amanah tersebut.

Terhitung sejak November 2015, berarti aku telah menuntaskan tujuh bulan amanahku untuk menjadi seorang guru. Di akhir pertemuan mata pelajaran Fisika, aku memberikan satu lembar sticky note kepada masing-masing santri yang aku ajar, diantaranya kelas 8 dan kelas 10 putra dan putri. Aku meminta mereka untuk mengevaluasi diriku sebagai guru fisika yang telah mengajari mereka beberapa bulan terakhir ini.

“Ibu mohon maaf apabila selama tujuh bulan terakhir ini, saya punya banyak salah sama kalian. Di akhir pertemuan kita pada semester ini, saya ingin meminta tolong untuk membantu saya mengevaluasi selama saya mengajari kalian. Silakan tulis apapun saran, kritik, kesan dan pesan untuk Ibu Gia selama mengajar fisika di kertas ini. Tidak usah tulis namamu ya! Kalau sudah, silakan tempelkan di papan tulis.”

Dan hasilnya adalah….

Positif
  1. Ibu Gia mengajarnya enak, seru, dan cepat masuk ke dalam otak. 
  2. Selalu memberikan inspirasi dan pengetahuan berupa cerita/ kisah dan video sebelum belajar fisika. Sehingga sangat menambah wawasan.
  3. Ibu Gia mengajarnya dekat dengan murid, friendly gitu. 
  4. Ibu Gia gurunya sangat sopan dan sering tersenyum.
  5. Diajarin sama Ibu Gia nyaman dan gak bikin bosan, sehingga yang tadinya gak suka fisika, jadi malah suka sama fisika.
  6. Kalau belajar fisika diulang-ulang terus materinya, sampai kita semua mengerti banget.
  7. Ibu Gia baik dan sangat menginspirasi dengan segala prestasinya.
  8. Datang ke kelas selalu tepat waktu.
Negatif
  1. Kalau menulis rumus mohon berurutan ya bu.
  2. Bikin soal suka kebanyakan dan agak susah.
  3. Kalau menjelaskan materi terkadang suka kecepetan.
  4. Lebih dekat dengan santri yang pintar, yang kurang pintar suka dicuekkin.
  5. Lebih banyak praktikum fisika dong bu.

Ya begitulah komentar para santri tentang amanah yang aku jalankan tujuh bulan terakhir ini. Alhamdulilah ada komentar positif dan juga negatifnya. Semoga ini semakin mamacuku untuk menjadi lebih baik lagi di tahun ajaran baru, insyaAllah.

Evaluasi dari Mr. Rizal dan guru-guru Ibad ArRahaman

Akhir Juni 2016 lalu adalah pekan rapat kerja guru untuk tahun pelajaran 2016/2017. Tepatnya pada tanggal 30 Juni 2016, beberapa guru diminta untuk microteaching di depan seluruh guru (guru KBM dan guru tahfidz) dan juga di depan Mr. Rizal Ali, seorang polisi, pengacara, dan juga pakar pendidikan dari Singapore.

Dua minggu sebelumnya, Pak Angga, kepala sekolah MTs, melelang siapa saja guru yang bersedia microteching pada tanggal 30 Juni mendatang. Guru-gurunya mewakili guru sains, guru PAI, guru bahasa, dan guru tahfidz. Entah aku lagi beruntung atau gimana, akulah yang langsung dimintai kesiapannya untuk mewakili dari guru sains.

“Untuk guru sains, Ibu Gia siap yah?” tanya Pak Angga, to the point.

Dengan singkat aku jawab, “Siap Pak!”

“Hamba tidak dikatakan bertakwa hingga dia mengoreksi dirinya sebagaimana dia mengoreksi rekannya” (HR. Tirmidzi).

Setelah dipikir-pikir, kenapa harus aku ya yang jadi korban? Emmm… okelah gapapa, biar adil. Toh aku masuk ke sini kan tanpa melalui seleksi microteaching. Dan semoga saja, nanti aku bisa memberikan inspirasi metode mengajarku kepada guru-guru lain dan sekaligus pastinya aku akan mendapatkan komentar-komentar yang membangun tentang caraku mengajar.

Rasanya? Gak usah ditanya ya! Deg-degkan banget! Karena kali ini microteachingnya harus di depan Mr. Rizal dan seluruh guru Ibad ArRahaman.
Sebelum microteaching, pastinya aku mempersiapkan RPP untuk 30 menit mengajar. Aku buat sedetail mungkin. Selain itu, aku siapkan media-media penunjang lainnya seperti PPT, video, dan soal-soal.

Setelah aku berdiskusi dengan rekanku, Bu Dwi, akhirnya aku memutuskan untuk mengajar materi Hukum Pascal untuk kelas VIII SMP. Kenapa harus Hukum Pascal? Alasannya karena materi itu konsepnya sangat mungkin untuk dikaitkan dengan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, karena aku ternyata sudah siap dengan video-video materi Hukum Pascal.

15 menit sebelum aku maju untuk praktik mengajar, Mr. Rizal telah memeriksa RPP yang telah aku siapkan. Beliau bilang, “Wow, very detail! This really good!


Aku dipersilakan untuk maju yang pertama.

30 menit berlalu…. Aku mengajar seperti di dalam kelas dengan para guru-guru lainnya berperan sebagai siswa.

Usai mengajar, Mr. Rizal dan guru-guru lainnya memberikan komentar positif dan negatif dari hasil pengamatan selama aku mengajar.

Dan hasilnya….

Positif
  1. Administrasi RPP sudah dipersiapkan dengan sangat baik dan detail.
  2. Materi dan media sudah dipersiapkan dengan baik.
  3. Menguasai materi yang diajarkan.
  4. Penyampaiannya runtun.
  5. Sebelum pembelajaran dimulai mengecek kebersihan kelas dan kerapihan seragam siswa.
  6. Apresepsinya sangat menarik.
  7. Full energy.
  8. Ada aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.
  9. Kesimpulan di akhir pembelajaran melibatkan siswa.
  10. Mobile
  11. Mampu mengendalikan pertanyaan-pertanyaan siswa dengan sangat baik.
Negatif
  1. Materi yang disampaikan terlalu cepat.
  2. Ada pemilihan kata yang masih asing untuk diberikan ke siswa.
Alhamdulilah… alhamdulilah… alhamdulilah…

Semoga evaluasi-evaluasi ini semakin membuatku tidak pernah puas untuk meng-upgrade diri agar menjadi lebih baik lagi, tidak pernah puas untuk membenanahi kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat, dan mampu menginvestasi keunggulan-keunggulan yang telah dimiliki. Mari menjadi guru yang mampu mencetak orang-orang hebat! Karena kitalah, tonggak peradaban bangsa ini.